Untuk helaan nafas di tengah malam
Mungkin dedaunan tak berbicara apa
Tapi sebuah jiwa ingin terbebas lepas
Atau kini keadaan hanyalah kebohongan
Ada makna yang membumbung pergi
Selayak embun yang tak bersahabat dengan pantai
Dimana tanya dan jawaban berlawanan arah
Pejamkan mata saja, dan biarkan kosong yang berbicara
Apa yang mesti dirangkai?
Atau, sebuah amarahkah yang berpitam?
Mungkin sedih yang menampakkan diri?
Namun, mengapa sepi ingin diungkit?
Matilah bersama gumpalan asap yang tinggi
Dan berbekaslah di mozaik-mozaik langit
Disini tak ada lagi tempat untuk bergelut
Entah kenapa, mungkin dipenuhi tanda tanya
Mengapa semuanya tak beranjak pergi?
Resah dalam penat berkunang-kunang
Mata hanya mampu menerawang ketiadaan
Karena mahligai batin dan jiwa remuk
Ada duri yang terselubung di dalam pekat
Di malam inipun luka masih beranak pinak
Lalu apa? Apa desis-desis malam masih membatin?
Atau, semuanya tak ada lagi dan
pergi bersama angin.
Makassar, 21 Februari 2012
Pradana
“PANCA Indra” Mulyawan