Kamis, 08 Maret 2012

AKU DI MALAM INI


Apa yang harus saya ungkap malam ini?
Mungkin setitik cahaya bisa membantu,
Membantuku untuk jujur pada kebohongan.
Dan kebohongan yang melenggok dengan kepalsuan.

Aku tak ingin berbicara banyak malam ini.
Mungkin hanya menjadi kesia-siaan saja,
Kesia-siaan yang tersapu pelan oleh sunyi.
Dan sunyi hanyalah irama beku tanpa aksara.

Apa yang mesti aku perbuat malam ini?
Mungkin kelabu dibalik kelam bisa membantu,
Membantuku merangkai makna-makna semu.
Dan semu tak hanyalah ilusi yang terperanjat di malam.

Aku tak ingin berbuat banyak malam ini.
Mungkin hanya berujung kegundahan saja,
Kegundahan yang menggulanakan emosi.
Dan emosi tak lebih dari sebuah gejolak asa.


Makassar, 29 February 2012
Pradana “PANCA Indra” Mulyawan


[+/-] Selengkapnya...

APA


Untuk helaan nafas di tengah malam
Mungkin dedaunan tak berbicara apa
Tapi sebuah jiwa ingin terbebas lepas
Atau kini keadaan hanyalah kebohongan

Ada makna yang membumbung pergi
Selayak embun yang tak bersahabat dengan pantai
Dimana tanya dan jawaban berlawanan arah
Pejamkan mata saja, dan biarkan kosong yang berbicara

Apa yang mesti dirangkai?
Atau, sebuah amarahkah yang berpitam?
Mungkin sedih yang menampakkan diri?
Namun, mengapa sepi ingin diungkit?

Matilah bersama gumpalan asap yang tinggi
Dan berbekaslah di mozaik-mozaik langit
Disini tak ada lagi tempat untuk bergelut
Entah kenapa, mungkin dipenuhi tanda tanya

Mengapa semuanya tak beranjak pergi?
Resah dalam penat berkunang-kunang
Mata hanya mampu menerawang ketiadaan
Karena mahligai batin dan jiwa remuk

Ada duri yang terselubung di dalam pekat
Di malam inipun luka masih beranak pinak
Lalu apa? Apa desis-desis malam masih membatin?
Atau,  semuanya tak ada lagi dan pergi bersama angin.


Makassar, 21 Februari 2012
Pradana “PANCA Indra” Mulyawan

[+/-] Selengkapnya...

DIA TENGAH MENANGIS


Janganlah bertanya lagi, sayang.
Karena dia tengah hilang sandaran.
Tersungkur layu, sungguh malang.
Sambil menangis dan sendirian.

Air mata mestikah beralasan?
Atau, hanya tawa yang berjawab.
Tetapi dia tenggelam kesedihan.
Berujung mati yang tak beradab.

Apa sebenarnya yang dia cari, sayang?
Apakah bisik-bisik kepedulian saja?
Lalu, mengapa tak berterus terang?
Atau dibalik air mata ada sebuah rahasia?

Tangis dia sungguh mengharu biru.
Dalam malam kelam di tengah kembang.
Merintih terseduh-seduh tak mengadu.
Memecah sunyi yang hilang dan terbang.

Hapus dan hentikan tangis dia, sayang.
Karena air mata itu bukanlah sebuah pilihan.
Biarkan sedih itu pergi, hilang, dan melayang.
Biarkan pedih dan sakit tersapu oleh kesabaran.


Makassar, 13 Januari 2012
Pradana “PANCA Indra” Mulyawan

[+/-] Selengkapnya...

HARMONISASI 3


 

Dan doa-doa tiba menemani sunyi di malam
Walau wajah itu masih sama disaat senja tadi
Sementara masih cinta itu yang setia berdiam
Sambil menengadah dan kembali meminta lagi

Sungguh sayang…

                                Makassar, 20 Desember 2011
Pradana “PANCA Indra” Mulyawan

[+/-] Selengkapnya...

HARMONISASI 2


Sungguh tiap ranting ketapang itu bagaikan jari penari
Namun dia hanya terpaku dan diam disapa udara
Sungguh pinang itu anggun bagaikan seorang penyanyi
Tapi sayang, pesonanya seakan redup oleh gulita

Lalu sunyi menunggu saat gelap hampir menjadi judul
Dan kunang-kunang menghibur nafas kepenatan
Sementara kerlipan penuh nakal saling terpantul
Dan mungkin esok banyak yang menanti kecupan

Makassar, 20 Desember 2011
Pradana “PANCA Indra” Mulyawan

[+/-] Selengkapnya...