Minggu, 27 Mei 2012

IN VIA


Dalam rahim sucih merengkuh semesta.
Di puncak bebatuan keagungan bergaung luas.
Menyongsong masa dari masa ke masa.
Menerjang peluh, memikul asa, menggendong harapan.

Menapaki bukit-bukit,
mencari kembali kefitrahan.
Menyusuri gua-gua kefanaan,
menelaah titik-titik cahaya.

Dari masa ke masa.
Meniti langkah-langkah kecil di tengah savana.
Dari masa ke masa.
Purnama tak akan meredupkan jejak-jejak jati diri.
Dari masa ke masa.
Renungan di puncak tertinggi akan senantiasa bertasbih.
Dari masa ke masa.
Suara batin mengalir bersama derai-derai mata air di celah karang.
Dari masa ke masa.
Mimpi-mimpi terus berkibar dan berkobar.
Dari masa ke masa.
Jemari menggenggam awan melepaskan teriakan.
Dar masa ke masa.
Dusun-dusun tumbuhnya wajah pribumi akan senantiasa terjamah.
Dari masa ke masa.
Telaga-telaga akan terus memancarkan kesegaran.
Dari masa ke masa.
Terlahir jiwa-jiwa baru sang petualang.

Dunia melahirkan ilmu-ilmu yang tumbuh dan merambat,
menjadi hutan, menjadi pegunungan,
membentuk aliran-aliran sungai, membentuk telaga-telaga.

Dan dari masa ke masa.
Senantiasa ada jejak-jejak yang akan menggali ilmu-ilmu dunia dan belajar dari dunia.

Karena dari masa ke masa.
Kita terlahir dan terus terlahir.
Terlahir sebagai saudara dari masa ke masa.

Makassar, 24 Mei 2012
Pradana “PANCA Indra” Mulyawan

[+/-] Selengkapnya...

Senin, 21 Mei 2012

DI ANTARA REL KERETA

Gerbong-gerbong tua masih berderet rapi.
Saat senja hampir dilepaskan oleh gelap.
Dan aku bercerita di antara rel-rel tua ini.
Menceritakan senandung dunia yang hampir terlelap.

Ada wanita tengah duduk sabar menunggu kereta terakhir tiba.
Aku sekilas menangkap potret kesabaran itu, sungguh indah.
Apa yang dia tunggu dari ujung rel tua ini tak kunjungpun ada.
Antara aku dan dia terbentang tanya serta asa yang sangat jauh.

Dingin merambat, sunyi menyapa, resah kian merayu.
Lalu  diantara rel-rel kereta itu, dia dan aku hanya diam.
Akupun pergi meninggalkan stasiun dan rel-rel tua itu.
Juga dia kutinggalkan bersama asanya yang mendalam.

Tiap langkah perjalanan pulang kuberharap,
Semoga dia tersadar, di ujung rel itu tak akan ada yang akan tiba.
Karena diantara rel kereta itu, banyak kisah-kisah yang terselip.
Kisah-kisah tentang dia dan tentang mereka.

Kisah yang senantiasa berbisik pelan,
Dan merambat di rel-rel tua itu,
Yang senantiasa siap kuceritakan.

Makassar, 19 Mei 2012
Pradana “PANCA Indra” Mulyawan


[+/-] Selengkapnya...

Kamis, 10 Mei 2012

BIAS

Adakah pelangi terbentang dikaki bukit?
Sementara sebuah keindahanpun mustahil disentuh.
Mungkin karena keindahan hanyalah semu belaka.
Bagai bias-bias pelangi dikala surutnya gerimis.

Coba pejamkan matamu dan melihatlah jauh ke dalam.
Lihatlah bentuk cinta dan kasih yang tertanam dalam hatimu.
Lalu buka matamu kini, apakah engkau masih melihatnya?
Dan sekali lagi bias membenamkan mata dalam keindahan.

Bias tak pernah memberi wujud, namun memberi keindahan.
Namun keindahan itu tak mampu tersentuh, hanya mampu dirasakan dalam kalbu.
Mungkin seperti cinta ini yang entah mengapa tak pernah surut padamu.

Makassar,10 Mei 2012
Pradana “PANCA Indra” Mulyawan

[+/-] Selengkapnya...