Jumat, 27 April 2012

SURAT UNTUK BANDUNG


Aku berbicara di tengah keremangan pelita.
Membicarakan tentang dirimu yang masih cantik.
Lalu aku masih berbohong tentang semuanya.
Namun, tidak tentang dirimu yang masih cantik.

Apa kau sudah membaca suratku?
Lalu, mengapa engkau tak meneriakkannya?
Karena aku menunggu Paris Van Javaku.
Dan engkau akan mencintaiku juga dirinya.

Engkau yang terkasih dan tersayang.
Dan Parisku tak akan lagi menunggu.
Karena esok akan berkhir pulang.
Lalu  cinta pergi bukan untukku dan dirimu.

Semua suratku untuk Paris Van Java.
Dan cinta dan kasih yang kau sembunyikan.
Apakah kita akan saling mencinta?
Mungkin esok, disuratmu yang entah kapan?

Dan saat itu, aku akan mencumbumu.
Lalu engkau akan membunuhku?

Makassar, 24 April 2012
Pradana “PANCA Indra” Mulyawan

[+/-] Selengkapnya...

SURAT UNTUK MALANG


Entah mengapa cahayamu masih nampak dibalik jendela kamarku.
Yang perlahan kuintip walau ku tahu jarak pasti membatasi.
Masih tersisa sepenggal tanda tanya dari tingkah anggunmu itu.
Yang menjadi pesona sekaligus benteng-benteng jeruji besi.

Baru saja aku mencicipi sebuah Apel yang kulitnya masih basah.
Dan ternyata semua masih sama dengan yang kemarin.
Aku masih lupa dengan sudut-sudut kota Malang yang indah.
Namun, memoriku terhadapmu membuat aku dan kota Malang dalam satu ikatan.

Cukup aku melepas penginderaan maka aku bisa membacamu.
Tapi engkau, cukup diam saja dan aku akan terbaca olehmu.
Lalu kini, apakah engkau telah melepas nafas di kota Malangku?
Karena nafasku sendiri telah kubawa pergi jauh dari kotaku.

Aku melepas suratku kembali ke kota Malangku.
Kuharap engkau menaburi aroma purnama ditiap katanya.
Dan saat kutatap purnama, aku bisa melihat sosokmu dan kotaku.
Lalu akupun bisa mati dengan tersenyum bahagia.

Di ujung nafasku, teringat pesona dan keanggunanmu.
Dan aku ingin mencium keningmu dibawah purnama kota Malang.

Makassar, 8 April 2012
Pradana “PANCA Indra” Mulyawan

[+/-] Selengkapnya...

SURAT UNTUK YOGYAKARTA


Tembok keraton mungkin masih ramai,
ramai akan riuh suara-suara pribumi.
Sementara engkau masih asyik dengan dahaga,
dahagamu akan ilmu-ilmu dunia, dan mungkin cinta.

Aku membumi disini bersama berkas cahayamu.
Lalu sejenak aku lepas irama dan mulai mengungkitmu.
Aku masih bisa mencium aroma bersahajamu,
dan potret Prambanan yang mengikat teduhnya senyummu.

Ada lembaran-lembaran surat untuk Jogja, untuk kamu.
Semuanya telah kusampaikan ditiap lembaran itu.
Bahwa, betapa rindunya aku .
Rinduku pada Jogja, rinduku padamu.

Pulanglah, dan lepaskan kebohongan ini.
Aku sudah bosan melangkah, aku maunya berlari.
Berlari melawan dunia yang tiada berasa.
Dan lihatlah, masih ada cinta yang kutitipkan di tepian Jogja.

Makassar, 7 April 2012
Pradana “PANCA Indra” Mulyawan

[+/-] Selengkapnya...

Minggu, 08 April 2012

TEPIAN NAFSU


Aku segera ingin tertidur
di pangkuan si manis
dalam lantunan dongeng-dongeng duniawi.

Aku sungguh mengantuk
dan mulai terbuai remang-remang.
Namun serentak bayangnya menyentak,
lalu perlahan memudar.

Selamat malam ku ucapkan,
untuk birahi yang tak lagi mencuat.
Perlahan ku tutup mata dan bibir yang mengecup
Si manis.

Lalu esok,
aku bercinta dan dunia tak lagi senonoh.
Karena semuanya tengah asyik,
asyik menelanjangi diri.


Makassar, 3 April 2012
Pradana “PANCA Indra” Muyawan

[+/-] Selengkapnya...