Berdiri, mari berbaris berderap.
Apakah mampu ke depan memandang?
Masih kelam, hingga cahaya menyadap.
Tak ada,dan jangan sekali berdendang.
200 juta meranggas dalam gelap
oleh tahta-tahta penuh gemilang.
200 juta lapuk tak beratap
oleh tangan berpangku yang senantiasa menang.
Sekarang, mari kita kembali diam.
Dan lihat dan bertanya, masih mampukah kita melihat?
Lihat diatas yang tersentum, tengok dibawah lemas tenggelam.
Apakah engkau ingin naik pitam?atau ikut melarat?
Nilam akan senantiasa terbentang dalam kelam,
dan biarkan cahaya hanya bisa menyadap.
Selagi perut dan kantong berhias di malam,
jangan harap gelap akan pergi berderap.
Yang bersusila serta berbudi terpejam.
Laut pasang, yang mengapung tenggelam.
Suara yang bersusila gusar, padam.
Sayang, gelap tak akan meninggalkan malam.
Tiga puisi.
Tiga yang berteriak.
Tiga do'a, bermakna.
Kemarin..,
Kini..,
dan mungkin esok?
Masih gelap.
Nilam masih menutup malam.
Lentera padam, tetap
masih gelap, namun api masih di dalam.
Entah kapan meraja?
Makassar, 19 Oktober 2011
"Panca Indra"
Senin, 06 Februari 2012
MASIH GELAP
SEBUAH SYAIR UNTUK WAJAH-WAJAH KEKECEWAAN
Suara pelan diperdengarkan kiranya dia tau dari mana asalnya.
Saat teriakan tangisan disambut senyuman dan harapan, seiring kecupan melekat di dahi.
Dalam ayunan engkau dininabobokkan oleh lembayung nada yg terlanjur serak namun bersemayam keikhlasan.
Bukan keterpaksaan, bukan kewajiban, namun budi yang mesti ditebus telah hinggap dipundakmu.
Dikala keringat telah mengering, dan letih tak terasa lagi.
Wajah polos, penuh jasa namun bersembunyi kumpulan tanya, bersemayam jutaan harapan.
Wajah-wajah mengharapkan engkau dapat dibanggakannya.
Wajah-wajah yang terus bertanya, apakah engkau mampu menjadi seperti dia.
Wajah-wajah mengharapkan engkau menjaga nama baiknya.
Wajah-wajah yang terus bertanya, apakah engkau mampu berdiri tampa dia.
Kelemahan, kebodohanmu telah merubah wajah-wajah itu.
Saat Mentari telah menenggelamkan dirinya di ufuk barat,
seraya tenggelamnya tanya dan harapan dari wajah-wajah itu.
suara serak kini tak bertekat lagi. Habis dan terdiam, hanya tatapan kosong.
Bergejolaklah jiwa, engkau tersungkur akan budi yang semakin berat dan tak mampu engkau balaskan.
Hanya mampu diam, dengan sorot yang berbinar-binar.
Untukmu sebuah syair bagi wajah-wajah kekecewaan.
Engkau tak sempurna yang terlahirkan oleh mahluk penuh kefanaan.
Maafkan daku yang telah menghapus senyuman itu.
Makassar, 6 Januari 2011
"Panca Indra"
PENGADUAN
Malam-Mu kini menggundah gulanakanku.
Memenjarakanku dalam kebisuanku.
Melemahkanku hingga di ujung dayaku.
Meremukkanku saat derita terbaca dimataku.
Aku telah Engkau pertemukan dalam kemelut.
Kini Engkau memaksaku keluar namun tersudut.
Hingga pilihan tersirat dan mesti kucabut.
Walau terbaca jelas bahwa luka dan derita kan menjadi buntut.
Tuhan...
Malam-Mu kini telah membangunkanku dari mimpi.
Mimpi yang mesti terabai dan fatamorgana yang kujalani.
Tapi daya itu menjadi lunglai, terdesak penolakan hati.
Sampai titik nadir hingga melemahkan jasad ini.
Aku mati saat dadaku masih mampu bernafas.
Dihujam sesak batin berujung naas.
Dan merangkak dirumput berduri tanpa alas.
Terkapar tanpa senyum, dengan tulang dan daging yang terhempas.
Tuhan...
Aku mengadu dan tersungkur ditatapanmu.
Mengapa tak habis lukaku?
Mengapa tak surut pedihku?
Makassar, 17 February 2011
"Panca Indra"
REMBULAN TAK INGIN BICARA PADANYA
Rembulan dalam senyum alam di dunia kelam.
Saat bintang mulai meredam hingga padam.
Hingga mulutnya hanya diam dan lidahnya bungkam.
Cenderung rautnya masam hingga tiba saat tenggelam.
Padanya membalas senyuman.
Dengan alas hiburan.
Tampan digelas minuman.
Hingga tergilas keangkuhan.
Rembulan tutup mulut membuka mata.
Saat terlahap maut berteriak mendamba.
Ibarat katup butut tak mampu terbuka.
Hingga dilahap maut tak berluka.
Padanya tersungkur oleh rembulan yang diam.
Tiba disumur bercermin di dasar yang dalam.
Padanya menangis oleh rembulan yang bisu.
Dalam hati bengis padanya masih mampu mengadu.
Makassar, 20 Maret 2011
"Panca Indra"
SYAIR 1 MARET
Saat lambaian pepohonan mulai pasrah hingga rapuh, saat genangan-genangan mulai terbentuk.
Sorot-sorot ibarat pelita yang tergantung, memberi nikmat insan-insan dekapan sang gulita.
Aromanya tercium semerbak, seketika alunan-alunannya mulai berjalan-jalan jinjit di telinga.
Dalam nada alam yang mengalun dibawah rembulan yang sinarnya seakan meredup.
Muncul kumpulan harmony saat kecerahan mulai terkekang oleh kelam, namun bukan meredam tapi meninabobokannya.
Angin dan hujan dikala kelam yang telanjang.
Angin dan hujan dibawa rembulan.
Angin dan hujan mencium pepohonan.
Angin dan hujan membaurkan sebuah genangan.
Pasangan itu mulai beradu dan ombakpun mengadu.
Mengadu dan menghempaskan dirinya pada pelukan sang dermaga.
Terdiam bisu saat mulai rapuh.
Sebuah hikayat dalam jalur alami namun susah tuk menafsirkan.
Siklus alam saling menghancurkan namun saling menghidupi.
Hingga bulir pasirpun akan musnah namun dalam pecahannyapun akan muncul kehidupan yang baru.
Sungguh Maha Kasih dalam penghancurannya.
Makassar, 1 Maret 2011
"Panca Indra"
JEMARI
Meniti keringat pada dia, dia, dan dia
Carut marut berdenyut senyap sepi
Sungguh sayang, matipun tiada
Empat sosok beradu nasib
Memelintirkan mata menutup kuping
Hingga luka tiada bertabib
Emosi terhunus dan siangpun mendung
Kembali jemari menari dan kepala mendidih
Oleh kamu yang tengah konyol
Hingga kamu tersedak tertatih
Dan tak berdayalah kamu, pembual….
Cukup…!!!
Dan cukuplah engkau bersandar merebah
Hanya diam hingga engkau mewabah
Beraksi namun tak pasti
Dan akhir, engkau mengelamkan pelangi
Lagi- lagi jemari menari kesana kemari
Karena kalian mengumbar kosong dan kosong
Oleh kendi yang tengah hampa tampa isi
Sungguh cerdaslah kalian dengan dahi bolong
Dan jangan meretakkan cermin untuk berkaca
Membuat kalian tampan menginjak-injak sang mawar
Lalu, mengapa kalian tak beranjak dari pesta??
Karena sungguh mual kami hingga ingin terkapar
Musik tak berhenti dan membuat jemari-jemari ini masih menari
Apakah dikau tiada bermalu??
Atau mesti, otakmu diterjang palu??
Dinding menebal, wajah dikaupun menebal, sungguh tak punya arti
Apakah dia, kamu, mereka, atau kalian??
Menampar-nampar malam agar pagi tak beranjak
Membuat kaki dan tangan tidur bertahun
Duniapun berisi hanya hayalan serta riak-riak
Sungguh, buatlah jemari mengakhiri tariannya
Fiksinya semakin cepat karena berselisih oleh waktu
Dan apakah besok kembali galau, kembali sunyi, atau kembali tanda tanya??
Karena sayang sungguh sayang, jika esok terlalu indah sindah lagu
Terlalu lucu jika jemari menari akan hari yang sempurna
Atau biarkanlah semua kembali terbuai khayalan dulu..
Dan jika iya,
Selamat tinggal…!!!!
Makassar,29 September 2011
"Panca Indra"
TENGAH MALAM
Antara Purnama dengan fajar.
Antara ubun-uban dengan dahi.
Antara kemarin dan kini.
Antara jalan kerikil dan trotoar.
Semakin larut…
Aku menjadi musang saat logika mulai lepas
Tak mampu surut walau berat lengkapi sunyi
Seakan ada tanya tergelarlah kertas
Datar dan diam oleh gerah yang menggerogoti
Semakin larut…
Menunggu esok untuk kembali menjadi penonton
Melihat pagi dan mereka yang saling berebut
Melirik siang dan kalian yang saling menghasut
Menerawang malam dan engkau yang berlagak tuan
Semakin larut…
Berbalik mengkhawatirkan kabar sang kemarin
Mengingat pagi dan dia yang berjuang
Merenungkan siang dan beliau menuai kejayaan
Menapak tilas malam dan para gerombolan yang menang
Semakin larut…
Menerima kenyataan hari ini terkoyak
Tadi, Pagi dan Si Itu senyum lalu pergi
Tadi, Siang dan Si Anu diam lalu terbahak-bahak
Tadi, Malam dan Si ini hilang tak peduli
Semakin larut…
Aku tidur tak mau bangkit berlari
Aku lemas namun tak mau berbaring
Semakin larut ku menunggu lusa melambai
Semakin larut tak sabar bulan menggelinding
Semakin ku tunggu, kita makin tak sadar lagi….
Makassar, Oktober 2011
"Panaca Indra"
KEMBARA
Biarkan hujan menemani malam.
Dan nikmati irama serta aromanya.
Lalu, dedaunan riak riuh memadam.
Di sumpal angin yang entah kemana?
Apa yang dicari embun di subuh buta?
Sekali hirup, imaginasi kebebasan menderah.
Lalu, fajar sekali ini mengindahkannya.
Karena rerumputan, lumut, dan alga tengah basah.
Apakah panas mesti jadi derita?
Sebab, kembang-kembang memalu dikala siang.
Mataharipun menjadi pencuri nikmat saja.
Namun tidak untuk kekakuan hamparan ilalang.
Kepakan-kepakan mewarnai langit memerah.
Senyap bersembunyi di soreh yang menuju senja.
Dan langkah-langkah mulai pulang kerumah.
Karena mentari tak ingin mengabadikan dirinya.
Malam ini tak lagi riuh dibanding kemarin.
Sebab sunyi mengekang langit, memenjarakan irama.
Irama mengalun datar beresonansi dengan dedaunan.
Sementara Purnama sibuk menghitung bintang penuh daya.
Makassar, 17 November 2011
"Panca Indra"
SERAKAH
Entah apa, karena yang kemarin tak sudih
Yang sucih perlahan-lahan mati terjerat
Dan kumpulan lakon senyuman bergemuruh
Hari dikala itu tiba, urat nadi berujung peluh
Kepulan hitam memekat menutup jalan setapak
Apa dan siapa yang berteriak? Berujung serapah
Atas nama apa dan siapa? Malah berbalik menembak
Putaran setan menebal tak tertembus tak tersentuh
Saku mu penuh, saku dia gendut, perut mereka kosong
Lakon dia dan kamu berujung mereka yang bernanah
Mungkin hati dan logika mengeras beku ibarat patung
Dikala warna putih berubah pekat menjadi hitam
Dikala cahaya meredup mati dan menjadi gelap
Dikala suara keras memelan berujung pada diam
Dikala pedang menumpul dan tak lagi tertancap
Dan yang bersandar hanya melipat tangan
Sibuk menghitung-menghitung dan menghitung
Makassar, 12 Desember 2011
"Panca Indra"