Senin, 06 Februari 2012

KEMBARA

Biarkan hujan menemani malam.
Dan nikmati irama serta aromanya.
Lalu, dedaunan riak riuh memadam.
Di sumpal angin yang entah kemana?

Apa yang dicari embun di subuh buta?
Sekali hirup, imaginasi kebebasan menderah.
Lalu, fajar sekali ini mengindahkannya.
Karena rerumputan, lumut, dan alga tengah basah.

Apakah panas mesti jadi derita?
Sebab, kembang-kembang memalu dikala siang.
Mataharipun menjadi pencuri nikmat saja.
Namun tidak untuk kekakuan hamparan ilalang.

Kepakan-kepakan mewarnai langit memerah.
Senyap bersembunyi di soreh yang menuju senja.
Dan langkah-langkah mulai pulang kerumah.
Karena mentari tak ingin mengabadikan dirinya.

Malam ini tak lagi riuh dibanding kemarin.
Sebab sunyi mengekang langit, memenjarakan irama.
Irama mengalun datar beresonansi dengan dedaunan.
Sementara Purnama sibuk menghitung bintang penuh daya.



Makassar, 17 November 2011
"Panca Indra"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar