Berdiri, mari berbaris berderap.
Apakah mampu ke depan memandang?
Masih kelam, hingga cahaya menyadap.
Tak ada,dan jangan sekali berdendang.
200 juta meranggas dalam gelap
oleh tahta-tahta penuh gemilang.
200 juta lapuk tak beratap
oleh tangan berpangku yang senantiasa menang.
Sekarang, mari kita kembali diam.
Dan lihat dan bertanya, masih mampukah kita melihat?
Lihat diatas yang tersentum, tengok dibawah lemas tenggelam.
Apakah engkau ingin naik pitam?atau ikut melarat?
Nilam akan senantiasa terbentang dalam kelam,
dan biarkan cahaya hanya bisa menyadap.
Selagi perut dan kantong berhias di malam,
jangan harap gelap akan pergi berderap.
Yang bersusila serta berbudi terpejam.
Laut pasang, yang mengapung tenggelam.
Suara yang bersusila gusar, padam.
Sayang, gelap tak akan meninggalkan malam.
Tiga puisi.
Tiga yang berteriak.
Tiga do'a, bermakna.
Kemarin..,
Kini..,
dan mungkin esok?
Masih gelap.
Nilam masih menutup malam.
Lentera padam, tetap
masih gelap, namun api masih di dalam.
Entah kapan meraja?
Makassar, 19 Oktober 2011
"Panca Indra"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar