Rembulan dalam senyum alam di dunia kelam.
Saat bintang mulai meredam hingga padam.
Hingga mulutnya hanya diam dan lidahnya bungkam.
Cenderung rautnya masam hingga tiba saat tenggelam.
Padanya membalas senyuman.
Dengan alas hiburan.
Tampan digelas minuman.
Hingga tergilas keangkuhan.
Rembulan tutup mulut membuka mata.
Saat terlahap maut berteriak mendamba.
Ibarat katup butut tak mampu terbuka.
Hingga dilahap maut tak berluka.
Padanya tersungkur oleh rembulan yang diam.
Tiba disumur bercermin di dasar yang dalam.
Padanya menangis oleh rembulan yang bisu.
Dalam hati bengis padanya masih mampu mengadu.
Makassar, 20 Maret 2011
"Panca Indra"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar