Senin, 06 Februari 2012

SEBUAH SYAIR UNTUK WAJAH-WAJAH KEKECEWAAN

Dengan titah suci membuka mata hingga titik cahaya pertama terbenam di pupil.
Suara pelan diperdengarkan kiranya dia tau dari mana asalnya.
Saat teriakan tangisan disambut senyuman dan harapan, seiring kecupan melekat di dahi.
Dalam ayunan engkau dininabobokkan oleh lembayung nada yg terlanjur serak namun bersemayam keikhlasan.
Bukan keterpaksaan, bukan kewajiban, namun budi yang mesti ditebus telah hinggap dipundakmu.
Dikala keringat telah mengering, dan letih tak terasa lagi.

Wajah polos, penuh jasa namun bersembunyi kumpulan tanya, bersemayam jutaan harapan.
Wajah-wajah mengharapkan engkau dapat dibanggakannya.
Wajah-wajah yang terus bertanya, apakah engkau mampu menjadi seperti dia.
Wajah-wajah mengharapkan engkau menjaga nama baiknya.
Wajah-wajah yang terus bertanya, apakah engkau mampu berdiri tampa dia.

Kelemahan, kebodohanmu telah merubah wajah-wajah itu.
Saat Mentari telah menenggelamkan dirinya di ufuk barat,
seraya tenggelamnya tanya dan harapan dari wajah-wajah itu.
suara serak kini tak bertekat lagi. Habis dan terdiam, hanya tatapan kosong.
Bergejolaklah jiwa, engkau tersungkur akan budi yang semakin berat dan tak mampu engkau balaskan.
Hanya mampu diam, dengan sorot yang berbinar-binar.
Untukmu sebuah syair bagi wajah-wajah kekecewaan.
Engkau tak sempurna yang terlahirkan oleh mahluk penuh kefanaan.

Maafkan daku yang telah menghapus senyuman itu.

Makassar, 6 Januari 2011
"Panca Indra"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar