Sabtu, 14 Juli 2012

SEBUAH NAFSU DIKALA HUJAN


Hujan kini begitu deras.
Menembus dinding-dinding kayu.
Namun gemuruh tak sedikitpun bersua.
Hanya angin yang berceloteh bersama hujan.

Ada lelaki yang bersembunyi dibalik sarungnya.
Dia meringkik dan menggigil sambil melawan hasrat setan.
Dia tak menutup mata namun, tak melihat apa-apa.
Mungkin dia sibuk dengan percakapan dirinya dengan dingin yang menusuk.

Sementara ada anak gadis bermain-main dengan hujan.
Pakaiannya basah, rambutnya basah, dan kemaluannyapun basah.
Dia tertawa terbahak-bahak, berlari-larian menggoda kepiluan.
Hingga hujanpun berhenti dan tawanya tak lagi terdengar.

Hujan menghilang, dingin meninggi, dan berahi memuncak.
Sosok lelaki pergi meninggalkan suara-suara.
Dan si gadis hilang entah kemana.

Sebuah pagi yang ramah di awal July.
Koran-koran mulai dibaca oleh kaum-kaum penikmat kopi.
Sebait berita tarpampang tentang pemerkosaan seorang gadis,
dan sesosok lelaki yang mati gantung diri.

Majauleng, 12 July 2012
Pradana “PANCA Indra” Mulyawan

[+/-] Selengkapnya...

MENATAP GELAP

Ada embun yang hinggap di keningmu.

Dan fajar tak ingin muncul ke dunia.
Lalu kupu-kupu masih bersarang di jiwa-jiwa penuh nafsu.
Namun engkau menertawakan kosong yang tiada.

Ada gelap yang tumbuh di tangkai mimpi jenaka.
Dan jeritan-jeritan merambat pelan di elah-celah kesunyian.
Lalu siluman-siluman berhalusinasi liar dengan nafsu yang penuh duka.
Namun dirimu tenggelam di hamparan telaga kenestapaan.

Tak ada cahaya yang ingin bersanding di kegelapan.
Selayaknya sepi yang senantiasa terpisahkan oleh keramaian.
Begitupun air mata yang tak akan mengalir oleh paksaan.
Selayaknya setitik kelembutan dan kekerasan yang terpisahkan perbedaan.

Aku bercerita padamu tapi, ku tak sudih hal ini berujung pada percumbuan.
Jadi, biarkan aku cukup menatap gelap dan engkau cukup mendengarkan.
Lalu, lengkaplah semua penderitaan.
Dan akhirnya, akan kupecahkan malam dan engkau akan melihat aku mencium gelap di ujung tatapanku.

Majauleng, 09 July 2012
Pradana “PANCA Indra” Mulyawan

[+/-] Selengkapnya...

Jumat, 06 Juli 2012

AKU ANJING LIAR

Aku melihat segenggam debu menyetubuhi bumi.
Saat terik seakan tiada bertepi dan tiada berakhir.
Lalu jiwaku pergi merana mengikuti arah angin.
Namun ragaku tinggal mengering dipanggang sepih.

Biarkan lolongan anjing liar menyapu keberadaanku.
Karena aku tak lagi ada sisa.
Lalu debu dan bumi mengakhiri percintaannya.
Dan malam malu untuk bercerita.

Tapi esok ajalku akan tiba.
dan kisahku masih belum dimulai.
Lalu apa yang akan ku tunggu?
Mungkin lolongan anjing-anjing liar itu adalah jawabannya.
Karena mungkin aku tak lebih dari sesosok anjing liar.

Sengkang, 6 July 2012
Pradana “PANCA Indra” Mulyawan

[+/-] Selengkapnya...