Dan fajar tak ingin muncul ke dunia.
Lalu kupu-kupu masih bersarang di jiwa-jiwa penuh nafsu.
Namun engkau menertawakan kosong yang tiada.
Ada gelap yang tumbuh di tangkai mimpi jenaka.
Dan jeritan-jeritan merambat pelan di elah-celah kesunyian.
Lalu siluman-siluman berhalusinasi liar dengan nafsu yang penuh
duka.
Namun dirimu tenggelam di hamparan telaga kenestapaan.
Tak ada cahaya yang ingin bersanding di kegelapan.
Selayaknya sepi yang senantiasa terpisahkan oleh keramaian.
Begitupun air mata yang tak akan mengalir oleh paksaan.
Selayaknya setitik kelembutan dan kekerasan yang terpisahkan
perbedaan.
Aku bercerita padamu tapi, ku tak sudih hal ini berujung pada
percumbuan.
Jadi, biarkan aku cukup menatap gelap dan engkau cukup
mendengarkan.
Lalu, lengkaplah semua penderitaan.
Dan akhirnya, akan kupecahkan malam dan engkau akan melihat aku
mencium gelap di ujung tatapanku.
Majauleng, 09
July 2012
Pradana “PANCA Indra” Mulyawan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar