Sabtu, 14 Juli 2012

MENATAP GELAP

Ada embun yang hinggap di keningmu.
Dan fajar tak ingin muncul ke dunia.
Lalu kupu-kupu masih bersarang di jiwa-jiwa penuh nafsu.
Namun engkau menertawakan kosong yang tiada.

Ada gelap yang tumbuh di tangkai mimpi jenaka.
Dan jeritan-jeritan merambat pelan di elah-celah kesunyian.
Lalu siluman-siluman berhalusinasi liar dengan nafsu yang penuh duka.
Namun dirimu tenggelam di hamparan telaga kenestapaan.

Tak ada cahaya yang ingin bersanding di kegelapan.
Selayaknya sepi yang senantiasa terpisahkan oleh keramaian.
Begitupun air mata yang tak akan mengalir oleh paksaan.
Selayaknya setitik kelembutan dan kekerasan yang terpisahkan perbedaan.

Aku bercerita padamu tapi, ku tak sudih hal ini berujung pada percumbuan.
Jadi, biarkan aku cukup menatap gelap dan engkau cukup mendengarkan.
Lalu, lengkaplah semua penderitaan.
Dan akhirnya, akan kupecahkan malam dan engkau akan melihat aku mencium gelap di ujung tatapanku.

Majauleng, 09 July 2012
Pradana “PANCA Indra” Mulyawan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar