Selasa, 30 Oktober 2012

AKU MENGENAL TUHAN DARI SUDUT LUBANG JARUM

Aku mengenal Tuhan.
Aku mengenal nama-Nya.
Nama-Nya aku kenal sebaik namaku.

Mungkin, Tuhan mengenal namaku?
Tapi, aku tak mengenal diriku.
Tak sebaik aku mengenal Tuhan.
Tak sebaik aku yang tak mengenal siapa-siapa.

Aku mengenal Tuhan.
Dia kecil.
Dia sekecil sebuah lubang jarum.
Dia sungguh nyata dan mungkin, aku yang semu.

Tuhan mengenal mahluk-Nya.
Dan aku mengenal Tuhan begitu kecil.
Tapi, ternyata aku jauh lebih kecil dari-Nya.

Makassar, 28 Oktober 2012
Pradana “PANCA Indra” Mulyawan

[+/-] Selengkapnya...

GADIS CANTIK BERHIDUNG PESEK

Gadis cantik berhidung pesek.
Di atas panggung di sebuah resto
Di malam yang dihiasi musik yang menghentak
Di sebuah resto yang penuh kerlap-kerlip cahaya.

Gadis cantik berhidung pesek.
Yang bernyanyi dan bersenandung
Yang mencuri perhatian lelaki yang lapar dan haus
Yang mempermainkan suasana malam di resto itu.

Gadis cantik berhidung pesek.
Bernyanyi dan bernyanyi
Hingga keringatnya melunturkan polesan bedaknya
Hingga merah pipinya ikut luntur oleh keringatnya.

Gadis cantik berhidung pesek.
Akhirnya berhenti bernyanyi
Dan berjalan turun dari panggung
Lalu menerobos sudut gelap dan tak terlihat lagi.
Tapi, esok dia akan muncul lagi.
Bernyanyi dan bersenandung dengan polesan bedak dan merah pipi yang baru.
Hingga keringatnya sendiri akan melunturkannya lagi, lagi, dan lagi.

Makassar, 20 Oktober 2012
Pradana “PANCA Indra” Mulyawan

[+/-] Selengkapnya...

Senin, 08 Oktober 2012

KOSONG

Melodi sepi berdendang dibawa malam.
saat bulan tertutup tabir kelabu dan kehampaan menusuk kalbu.
Doa ku terbang menutup mata-mataku, menembus imagi.
Seperti nafas dijejaki kamboja dari tanah pemakaman.
Tuhan berbalik muka, dan aku tunduk menikam nasib,
Lalu nasib beradu dengan takdir, tapi aku yang mati.
Berlarilah para pemuja malam, diseretnya keranda mayat.
Roh ku menari dihadapan jasadnya, dan Dunia diam.
Mati ku kosong tiada menuai tangis.

Makassar, 8 Oktober 2012
Pradana “PANCA Indra” Mulyawan

[+/-] Selengkapnya...

Selasa, 02 Oktober 2012

MALAM YANG BERPELANGI

Awan gemawam menjauh dari langit,
sementara mendung tiada terbentuk.
Angin pergi menggandeng irama cinta.
Pelan, menembus celah dedaunan Angsana.
Ada alasan yang tak mampu diterima logika.
Seperti malam yang dihiasi pelangi.
Bagai mengisyaratkan sepi yang disirami sebuah fatamorgana.

Makassar, 24 September 2012
Pradana “PANCA Indra” Mulyawan

[+/-] Selengkapnya...

Sabtu, 14 Juli 2012

SEBUAH NAFSU DIKALA HUJAN


Hujan kini begitu deras.
Menembus dinding-dinding kayu.
Namun gemuruh tak sedikitpun bersua.
Hanya angin yang berceloteh bersama hujan.

Ada lelaki yang bersembunyi dibalik sarungnya.
Dia meringkik dan menggigil sambil melawan hasrat setan.
Dia tak menutup mata namun, tak melihat apa-apa.
Mungkin dia sibuk dengan percakapan dirinya dengan dingin yang menusuk.

Sementara ada anak gadis bermain-main dengan hujan.
Pakaiannya basah, rambutnya basah, dan kemaluannyapun basah.
Dia tertawa terbahak-bahak, berlari-larian menggoda kepiluan.
Hingga hujanpun berhenti dan tawanya tak lagi terdengar.

Hujan menghilang, dingin meninggi, dan berahi memuncak.
Sosok lelaki pergi meninggalkan suara-suara.
Dan si gadis hilang entah kemana.

Sebuah pagi yang ramah di awal July.
Koran-koran mulai dibaca oleh kaum-kaum penikmat kopi.
Sebait berita tarpampang tentang pemerkosaan seorang gadis,
dan sesosok lelaki yang mati gantung diri.

Majauleng, 12 July 2012
Pradana “PANCA Indra” Mulyawan

[+/-] Selengkapnya...