Berayun pada jemari-jemari gemulai
Meniti keringat pada dia, dia, dan dia
Carut marut berdenyut senyap sepi
Sungguh sayang, matipun tiada
Empat sosok beradu nasib
Memelintirkan mata menutup kuping
Hingga luka tiada bertabib
Emosi terhunus dan siangpun mendung
Kembali jemari menari dan kepala mendidih
Oleh kamu yang tengah konyol
Hingga kamu tersedak tertatih
Dan tak berdayalah kamu, pembual….
Cukup…!!!
Dan cukuplah engkau bersandar merebah
Hanya diam hingga engkau mewabah
Beraksi namun tak pasti
Dan akhir, engkau mengelamkan pelangi
Lagi- lagi jemari menari kesana kemari
Karena kalian mengumbar kosong dan kosong
Oleh kendi yang tengah hampa tampa isi
Sungguh cerdaslah kalian dengan dahi bolong
Dan jangan meretakkan cermin untuk berkaca
Membuat kalian tampan menginjak-injak sang mawar
Lalu, mengapa kalian tak beranjak dari pesta??
Karena sungguh mual kami hingga ingin terkapar
Musik tak berhenti dan membuat jemari-jemari ini masih menari
Apakah dikau tiada bermalu??
Atau mesti, otakmu diterjang palu??
Dinding menebal, wajah dikaupun menebal, sungguh tak punya arti
Apakah dia, kamu, mereka, atau kalian??
Menampar-nampar malam agar pagi tak beranjak
Membuat kaki dan tangan tidur bertahun
Duniapun berisi hanya hayalan serta riak-riak
Sungguh, buatlah jemari mengakhiri tariannya
Fiksinya semakin cepat karena berselisih oleh waktu
Dan apakah besok kembali galau, kembali sunyi, atau kembali tanda tanya??
Karena sayang sungguh sayang, jika esok terlalu indah sindah lagu
Terlalu lucu jika jemari menari akan hari yang sempurna
Atau biarkanlah semua kembali terbuai khayalan dulu..
Dan jika iya,
Selamat tinggal…!!!!
Makassar,29 September 2011
"Panca Indra"
Meniti keringat pada dia, dia, dan dia
Carut marut berdenyut senyap sepi
Sungguh sayang, matipun tiada
Empat sosok beradu nasib
Memelintirkan mata menutup kuping
Hingga luka tiada bertabib
Emosi terhunus dan siangpun mendung
Kembali jemari menari dan kepala mendidih
Oleh kamu yang tengah konyol
Hingga kamu tersedak tertatih
Dan tak berdayalah kamu, pembual….
Cukup…!!!
Dan cukuplah engkau bersandar merebah
Hanya diam hingga engkau mewabah
Beraksi namun tak pasti
Dan akhir, engkau mengelamkan pelangi
Lagi- lagi jemari menari kesana kemari
Karena kalian mengumbar kosong dan kosong
Oleh kendi yang tengah hampa tampa isi
Sungguh cerdaslah kalian dengan dahi bolong
Dan jangan meretakkan cermin untuk berkaca
Membuat kalian tampan menginjak-injak sang mawar
Lalu, mengapa kalian tak beranjak dari pesta??
Karena sungguh mual kami hingga ingin terkapar
Musik tak berhenti dan membuat jemari-jemari ini masih menari
Apakah dikau tiada bermalu??
Atau mesti, otakmu diterjang palu??
Dinding menebal, wajah dikaupun menebal, sungguh tak punya arti
Apakah dia, kamu, mereka, atau kalian??
Menampar-nampar malam agar pagi tak beranjak
Membuat kaki dan tangan tidur bertahun
Duniapun berisi hanya hayalan serta riak-riak
Sungguh, buatlah jemari mengakhiri tariannya
Fiksinya semakin cepat karena berselisih oleh waktu
Dan apakah besok kembali galau, kembali sunyi, atau kembali tanda tanya??
Karena sayang sungguh sayang, jika esok terlalu indah sindah lagu
Terlalu lucu jika jemari menari akan hari yang sempurna
Atau biarkanlah semua kembali terbuai khayalan dulu..
Dan jika iya,
Selamat tinggal…!!!!
Makassar,29 September 2011
"Panca Indra"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar