Tuhan...
Malam-Mu kini menggundah gulanakanku.
Memenjarakanku dalam kebisuanku.
Melemahkanku hingga di ujung dayaku.
Meremukkanku saat derita terbaca dimataku.
Aku telah Engkau pertemukan dalam kemelut.
Kini Engkau memaksaku keluar namun tersudut.
Hingga pilihan tersirat dan mesti kucabut.
Walau terbaca jelas bahwa luka dan derita kan menjadi buntut.
Tuhan...
Malam-Mu kini telah membangunkanku dari mimpi.
Mimpi yang mesti terabai dan fatamorgana yang kujalani.
Tapi daya itu menjadi lunglai, terdesak penolakan hati.
Sampai titik nadir hingga melemahkan jasad ini.
Aku mati saat dadaku masih mampu bernafas.
Dihujam sesak batin berujung naas.
Dan merangkak dirumput berduri tanpa alas.
Terkapar tanpa senyum, dengan tulang dan daging yang terhempas.
Tuhan...
Aku mengadu dan tersungkur ditatapanmu.
Mengapa tak habis lukaku?
Mengapa tak surut pedihku?
Makassar, 17 February 2011
"Panca Indra"
Malam-Mu kini menggundah gulanakanku.
Memenjarakanku dalam kebisuanku.
Melemahkanku hingga di ujung dayaku.
Meremukkanku saat derita terbaca dimataku.
Aku telah Engkau pertemukan dalam kemelut.
Kini Engkau memaksaku keluar namun tersudut.
Hingga pilihan tersirat dan mesti kucabut.
Walau terbaca jelas bahwa luka dan derita kan menjadi buntut.
Tuhan...
Malam-Mu kini telah membangunkanku dari mimpi.
Mimpi yang mesti terabai dan fatamorgana yang kujalani.
Tapi daya itu menjadi lunglai, terdesak penolakan hati.
Sampai titik nadir hingga melemahkan jasad ini.
Aku mati saat dadaku masih mampu bernafas.
Dihujam sesak batin berujung naas.
Dan merangkak dirumput berduri tanpa alas.
Terkapar tanpa senyum, dengan tulang dan daging yang terhempas.
Tuhan...
Aku mengadu dan tersungkur ditatapanmu.
Mengapa tak habis lukaku?
Mengapa tak surut pedihku?
Makassar, 17 February 2011
"Panca Indra"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar