Senin, 06 Februari 2012

TENGAH MALAM

Semakin larut…

Antara Purnama dengan fajar.
Antara ubun-uban dengan dahi.
Antara kemarin dan kini.
Antara jalan kerikil dan trotoar.

Semakin larut…

Aku menjadi musang saat logika mulai lepas
Tak mampu surut walau berat lengkapi sunyi
Seakan ada tanya tergelarlah kertas
Datar dan diam oleh gerah yang menggerogoti

Semakin larut…

Menunggu esok untuk kembali menjadi penonton
Melihat pagi dan mereka yang saling berebut
Melirik siang dan kalian yang saling menghasut
Menerawang malam dan engkau yang berlagak tuan

Semakin larut…

Berbalik mengkhawatirkan kabar sang kemarin
Mengingat pagi dan dia yang berjuang
Merenungkan siang dan beliau menuai kejayaan
Menapak tilas malam dan para gerombolan yang menang

Semakin larut…

Menerima kenyataan hari ini terkoyak
Tadi, Pagi dan Si Itu senyum lalu pergi
Tadi, Siang dan Si Anu diam lalu terbahak-bahak
Tadi, Malam dan Si ini hilang tak peduli

Semakin larut…

Aku tidur tak mau bangkit berlari
Aku lemas namun tak mau berbaring
Semakin larut ku menunggu lusa melambai
Semakin larut tak sabar bulan menggelinding

Semakin ku tunggu, kita makin tak sadar lagi….



Makassar, Oktober 2011
"Panaca Indra"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar