Tembok keraton mungkin masih ramai,
ramai akan riuh suara-suara pribumi.
Sementara engkau masih asyik dengan dahaga,
dahagamu akan ilmu-ilmu dunia, dan mungkin cinta.
Aku membumi disini bersama berkas cahayamu.
Lalu sejenak aku lepas irama dan mulai mengungkitmu.
Aku masih bisa mencium aroma bersahajamu,
dan potret Prambanan yang mengikat teduhnya senyummu.
Ada lembaran-lembaran surat untuk Jogja, untuk kamu.
Semuanya telah kusampaikan ditiap lembaran itu.
Bahwa, betapa rindunya aku .
Rinduku pada Jogja, rinduku padamu.
Pulanglah, dan lepaskan kebohongan ini.
Aku sudah bosan melangkah, aku maunya berlari.
Berlari melawan dunia yang tiada berasa.
Dan lihatlah, masih ada cinta yang kutitipkan di tepian Jogja.
Makassar, 7 April 2012
Pradana
“PANCA Indra” Mulyawan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar