Entah mengapa cahayamu masih nampak dibalik jendela kamarku.
Yang perlahan kuintip walau ku tahu jarak pasti membatasi.
Masih tersisa sepenggal tanda tanya dari tingkah anggunmu itu.
Yang menjadi pesona sekaligus benteng-benteng jeruji besi.
Baru saja aku mencicipi sebuah Apel yang kulitnya masih basah.
Dan ternyata semua masih sama dengan yang kemarin.
Aku masih lupa dengan sudut-sudut kota Malang yang indah.
Namun, memoriku terhadapmu membuat aku dan kota Malang dalam satu
ikatan.
Cukup aku melepas penginderaan maka aku bisa membacamu.
Tapi engkau, cukup diam saja dan aku akan terbaca olehmu.
Lalu kini, apakah engkau telah melepas nafas di kota Malangku?
Karena nafasku sendiri telah kubawa pergi jauh dari kotaku.
Aku melepas suratku kembali ke kota Malangku.
Kuharap engkau menaburi aroma purnama ditiap katanya.
Dan saat kutatap purnama, aku bisa melihat sosokmu dan kotaku.
Lalu akupun bisa mati dengan tersenyum bahagia.
Di ujung nafasku, teringat pesona dan keanggunanmu.
Dan aku ingin mencium keningmu dibawah purnama kota Malang.
Makassar, 8 April 2012
Pradana
“PANCA Indra” Mulyawan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar