Dalam rahim sucih merengkuh semesta.
Di puncak bebatuan keagungan bergaung luas.
Menyongsong masa dari masa ke masa.
Menerjang peluh, memikul asa, menggendong harapan.
Menapaki bukit-bukit,
mencari kembali kefitrahan.
Menyusuri gua-gua kefanaan,
menelaah titik-titik cahaya.
Dari masa ke masa.
Meniti langkah-langkah kecil di tengah savana.
Dari masa ke masa.
Purnama tak akan meredupkan jejak-jejak jati diri.
Dari masa ke masa.
Renungan di puncak tertinggi akan senantiasa bertasbih.
Dari masa ke masa.
Suara batin mengalir bersama derai-derai mata air di celah karang.
Dari masa ke masa.
Mimpi-mimpi terus berkibar dan berkobar.
Dari masa ke masa.
Jemari menggenggam awan melepaskan teriakan.
Dar masa ke masa.
Dusun-dusun tumbuhnya wajah pribumi akan senantiasa terjamah.
Dari masa ke masa.
Telaga-telaga akan terus memancarkan kesegaran.
Dari masa ke masa.
Terlahir jiwa-jiwa baru sang petualang.
Dunia melahirkan ilmu-ilmu yang tumbuh dan merambat,
menjadi hutan, menjadi pegunungan,
membentuk aliran-aliran sungai, membentuk telaga-telaga.
Dan dari masa ke masa.
Senantiasa ada jejak-jejak yang akan menggali ilmu-ilmu dunia dan
belajar dari dunia.
Karena dari masa ke masa.
Kita terlahir dan terus terlahir.
Terlahir sebagai saudara dari masa ke masa.
Makassar, 24 Mei 2012
Pradana
“PANCA Indra” Mulyawan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar