Kamis, 08 Maret 2012

DIA TENGAH MENANGIS


Janganlah bertanya lagi, sayang.
Karena dia tengah hilang sandaran.
Tersungkur layu, sungguh malang.
Sambil menangis dan sendirian.

Air mata mestikah beralasan?
Atau, hanya tawa yang berjawab.
Tetapi dia tenggelam kesedihan.
Berujung mati yang tak beradab.

Apa sebenarnya yang dia cari, sayang?
Apakah bisik-bisik kepedulian saja?
Lalu, mengapa tak berterus terang?
Atau dibalik air mata ada sebuah rahasia?

Tangis dia sungguh mengharu biru.
Dalam malam kelam di tengah kembang.
Merintih terseduh-seduh tak mengadu.
Memecah sunyi yang hilang dan terbang.

Hapus dan hentikan tangis dia, sayang.
Karena air mata itu bukanlah sebuah pilihan.
Biarkan sedih itu pergi, hilang, dan melayang.
Biarkan pedih dan sakit tersapu oleh kesabaran.


Makassar, 13 Januari 2012
Pradana “PANCA Indra” Mulyawan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar